Home Pariwisata Kunjungan Wisman di Gili Trawangan Tak Terpengaruh Ramadan

Kunjungan Wisman di Gili Trawangan Tak Terpengaruh Ramadan

24
0
SHARE

LOMBOKONLINE.co.id, LOMBOK UTARA – Momen Ramadan ternyata tak mempengaruhi angka kunjungan wisman ke Gili Trawangan, Lombok Utara. Dari hasil pantauan lapangan Kementerian Pariwisata (Kemenpar) bersama Dinas Pariwisata Kabupaten Lombok Utara (KLU), tingkat hunian sejumlah hotel rata-rata mencapai 85%. Dan Gili Trawangan mencatatkan prosentase tingkat hunian tertinggi.

“Hari Senin (5/6) kemarin, kami bersama Dispar Kabupaten Lombok Utara menggelar diskusi informal dengan pelaku industri pariwisata di sana. GM Hotel, guide hingga kusir Cidomo, semua diajak sharing. Ternyata, tingkat okupansi hotel di Gili Trawangan tetap tinggi,” ucap Ketua Pokja Percepatan 10 Destinasi Prioritas Kemenpar Hiramsyah S Thaib yang didampingi PIC Mandalika T. Rahmadi, Selasa (6/6).

Dari hasil blusukan di lapangan itu, Hiramsyah mendapati fakta bahwa GM Hotel berbintang di Gili Trawangan justru sumringah saat Ramadan. Tingkat okupansi rata-rata sudah 83%. “Bahkan ada GM yang bilang hotelnya mulai 20 -29 Juni sudah close. Sudah habis dibooking wisman dan wisnus,” tambahnya.

Angka tadi tak beda jauh dari data yang dikeluarkan Dispar Kabupaten Lombok Utara. Dari catatan yang ada, tingkat hunian hotel di Gili Trawangan sudah mencapai 85%.

“Ramadan tidak berpengaruh terhadap kunjungan wisatawan ke Gili Trawangan. Okupansinya masih tinggi. Ada di kisaran 85%,” papar Wayan Bratayasa, Kabid Pengembangan Destinasi dan Usaha Pariwisata Kabupeten Lombok Utara.

Dia menangkap ada keseriusan dan semangat yang kuat yang ditunjukkan GM Hotel, guide hingga kusir Cidomo. Namun, tetap ada catatan yang diberikan. Masukan dari para pelaku bisnis pariwisata di Gili Trawangan nadanya sama. Semua ingin segera melihat pembenahan Infratsruktur pariwisata di Gili Trawangan.

“Misalnya penataan pinggiran pantai di sepanjang Gili Trawangan. Para pelaku bisnis pariwisata berharap ini bisa segera dibersihkan dari bekas material yang masih terbengkalai paska penertiban bangunan pinggir pantai di bulan februari 2017 yang lalu,” kata Wayan.

Selain itu, perbaikan dari sarana jalan lingkar dan saluran air drainase di Gili Trawangan bisa segera dilakukan agar pada saat musim hujan tidak tergenang dan menyebabkan banjir.

“Juga pengelolaan sampah harus dilakukan secara profesional. Ini penting untuk segera dilakukan demi mengatasi masalah sampah yang sudah kritis di Gili Trawangan,” tambah Wayan.

PIC Destinasi Prioritas Mandalika Taufan menambahkan, di Gili Trawangan terdapat sejumlah fasilitas penginapan mulai kelas melati hingga hotel bintang. Dari sekian banyak tempat penginapan, terdapat pula beberapa yang menyajikan wisata family friendly, termasuk sajian makanannya.

Villa Bella misalnya. Letaknya hanya berjarak beberapa langkah dari pantai dan sepuluh menit berjalan kaki dari Pelabuhan Gili Trawangan.

“Tempat ini enggan menyediakan minuman beralkohol (minol) di dalam penginapannya. Selama bulan suci Ramadhan, Villa Bella menyiapkan paket Ramadan untuk para wisatawan,” ungkapnya.

Untuk menu berbuka, manajemen Villa Bella menyediakan berbagai takjil mulai dari kurma, es kelapa, hingga es buah. Selama bulan Ramadan, Villa Bella juga memberikan penjelasan seputar bulan suci Ramadan kepada wisatawan yang datang.

“Konsepnya benar-benar moslem friendly. Petugas Villa Bella bahkan siap mengantarkan para wisatawan yang mau beribadah Shalat Tarawih di Masjid Gili Trawangan,” ucapnya.

Menpar Arief Yahya sampai ikutan sumringah. Menurutnya, Gili Trawangan adalah magnet periwisata Lombok yang memiliki kekayaan wisata bahari yang kuat. Pasirnya putih, bersih, airnya jernih, dan banyak dive site yang merupakan salah satu surga bagi penyelam. Ada kapal karam yang sudah menjadi rumah terumbu karang dan kawanan ikan-ikan, ada kura-kura, ada nemo, dan lainnya. Selain Gili Trawangan, Lumbok Utara juga punya Gili Meno dan Gili Air yang suasananya lebih asri dan lebih natural.

“Pesan saya hanya satu. Ke depannya semua sektor yang berhubungan dengan industri pariwisata terus berbenah dan bersinergi demi mewujudkan target 2019. Semua unsur yang menjadi kelemahan terus  kita perbaiki dengan melibatkan stakeholder, pemerintah, akademisi, pelaku bisnis, pers, dan komunitas. Sinergisitas pentahelix ini merupakan kunci sukses dalam mengembangkan pariwisata nasional,” kata Arief Yahya, Menteri Pariwisata RI. (*)


Facebook Comment

LEAVE A REPLY