Selain Helikopter, Akan Ada Glamping di Segara Anak Rinjani?

by Jackysan
900 views

LOMBOKONLINE.co.id, Jakarta – Gunung Rinjani memang seksi bagi pendaki dan pengusaha. Terbaru, akan ada layanan hotel semi permanen di Segara Anak dan wisata helikopter.

Dalam rilis resmi Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (BTNGR), Kamis (20/2/2020), disebutkan investor dari PT. Rinjani Glamping Indonesia (RGI) dan PT. Airbus Helicopters Indonesia (AHI) lah yang ingin menyediakan fasilitas itu.

RGI dan AHI telah melakukan audiensi pada hari Selasa (18/2) dengan stake holder Gunung Rinjani. Sejumlah pihak hadir, yakni dari Dinas Pariwisata NTB, Dinas LHK NTB, Dinas ESDM NTB, BPBD NTB, Basarnas, Dinas Pariwisata Lombok Timur, BP Majelis Adat Sasak, Geopark Rinjani, Forum Porter Guide Rinjani hingga Perwakilan Trekking Organizer (TO).

“Pada pemaparannya, RGI menyampaikan masih dalam proses ijin usaha penyediaan sarana wisata alam. Sampai saat ini tahapan perijinan yang dilakukan RGI adalah Pertek (Pertimbangan Teknis) dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Lombok Utara pada tahun 2017 dan Pertek dari BTNGR pada tahun 2017,” kata BTNGR.

“Masih ada beberapa tahapan yang perlu dilakukan oleh RGI yaitu penyusunan Rencana Pengusahaan Pariwisata Alam (RPPA), dokumen UKL/UPL serta konsultasi publik,” imbuh dia.

Photo courtesy of : unfogetabletrip.blogspot.com

Bentuk usaha yang dilakukan RGI adalah menyediakan sarana glamping (glamour camping) yang direncanakan akan dibangun di sekitar Danau Segara Anak. Perusahaan mengklaim akan menjamin dan memastikan dampak minimal dari sisi ekologi dan estetikanya.

“RGI juga akan bersinergi dengan pelaku wisata yang telah ada agar pelaku usaha yang ada seperti TO, guide dan porter tetap berjalan,” jelas BTNGR.

Sedang AHI telah melakukan audiensi mengenai wisata helikopter di Gunung Rinjani dengan Kementerian LHK, Kementerian Pariwisata, Pemprov NTB dan Kepala Balai Taman Nasional Gunung Rinjani sejak tahun 2015. Program Heli Tourism akan diawali studi kelayakan dan uji coba.

“Uji coba itu rencananya akan dilaksanakan antara September hingga Desember 2020 untuk mempelajari dan melakukan review operasional. Sesuai yang disampaikan oleh AHI bahwa konsep Heli-Tourism ini tidak akan mengganggu pasar wisata pendakian yang ada selama ini karena memiliki pangsa pasar yang berbeda,” kata BTNGR.

“Namun jika konsep tersebut menghadapi banyak kendala maka AHI pastinya tidak akan melanjutkan konsep tersebut,” dia menegaskan.

Berkenaan dengan ini, diperlukan studi kelayakan yang meliputi beberapa aspek seperti ekologi, ekonomi, sosial budaya serta aspek legal. Selain itu, salah satu aspek yang juga harus menjadi pertimbangan adalah rencana pengelolaan Taman Nasional Gunung Rinjani dengan pelibatan para pihak serta memastikan bahwa pelaku usaha yang telah ada tetap terlindungi.

Bagaimana menurut traveler?

Source : Detik

You may also like

Leave a Comment