Senggigi Mau dibawa kemana? – Podcast #2 Dispar Lobar

by Jackysan
38 views

LOMBOK ONLINE.co.id – Sudah puluhan tahun, atau setidaknya sejak akhir 80an, Senggigi menjadi Ikon pariwisata Lombok, bahkan NTB. Ya, sejak awal Senggigi memang dirancang sebagai destinasi pariwisata ekslusif, kelas dunia. Hanya turis-turis mancanegara yang berduit yang bisa menyeberang ke Lombok dari Bali menuju Senggigi, menikmati Pantai yang “masih perawan“, dengan kehangatan surga tropis yang sebenarnya sembari berburu “Telur Naga“, Sebuah Istilah umum di kalangan para fotografer dunia saat itu untuk mengabadikan moment langka ketika matahari tenggelam tepat di atas Gunung Agung dan hanya bisa dinikmati dari Senggigi. Biasanya terjadi sekali sekitar bulan April hingga Juni. Itupun jika tak tertutup awan.

Senggigi sempat mati suri akibat kerusuhan sosial di Ampenan pada tahun 2000 dan peristiwa Bom Bali yang bertubi-tubi setelahnya. Lebih dari 10 tahun, Senggigi seperti tak terurus dan konon hanya menjadi syurga tersembunyi kaum gay, lesbian bahkan phidopilia. Ada juga cafe remang-remang yang bermunculan silih berganti, dengan pelanggan para pejabat lokal dan pekerja tambang ilegal yang marak di Lombok dan Sumbawa. selebihnya tak tahu mau diapakan.

Hingga tahun ketika Era Presiden SBY berkuasa dan TGB menjadi Gubernur NTB, Lombok dijadikan tujuan MICE (Meetings, incentives, conferencing, exhibitions). Tempat meeting, rapat-rapat, seminar, workshop dan acara-acara pemerintah berskla nasional. Pariwisata NTB, khususnya Lombok-pun kembali bergeliat. Hampir setiap hari tamu tamu dari berbagai daerah datang ke Lombok untuk mengikuti acara-acara kementrian atau lembaga-lembaga nasional-internasional. Senggigi kembali bergeliat, mobil-mobil pribadi maupun carteran lalu lalang membawa para tamu, hotel-hotel penuh sesak, event-event seni bergemuruh. Optimisme pun menjalar cepat. Warung dan restoran, tempat-tempat penjualan souvenir menjamur, sektor riil panen raya.

Ditengah Optimisme yang menggebu, tiba-tiba prahara datang. Lombok diguncang gempa dahsyat. Bukan hanya bangunan dan infrastruktur yang hancur, dunia pariwisata-pun ambles seambles-amblesnya. Pemerintah tak kurang akal. Dibuatlah strategi baru dengan dijadikannya Rinjani sebagai kawasan geopark dunia dan Wilayah pantai Kuta (Mandalika) sebagai Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) di sektor kepariwisataan. Pemerintah juga mencoba membuat branding baru, dengan membangun sirkuit MotoGP berkelas dunia. Segala daya diupayakan untuk menyambut event besar yang belum jelas juntrungannya itu.

Di tengah semangat yang bergelora dan nafsu menggebu tersebut tiba-tiba muncul “pagebluk” berskala dunia : Pandemi Covid-19 yg meluluh lantakkan perekonomian dunia. Tak hanya sektor pariwisata, hampir seluruh kegiatan sosial, ekonomi, budaya, lumpuh total. Di luar itu semua, Senggigi semakin tenggelam dan seolah terlupakan. Tetapi hidup harus tetap berjalan, bukan? Dan Wilayah NTB, khusnya pulau Lombok yang sudah keranjingan dengan pariwisata tetap optimis, bahwa entah kapan, kejayaan pariwisata itu akan kembali lagi menghampiri. Hanya fokusnya seolah berpindah ke Mandalika (Lombok Selatan) atau sekitar Gunung Rinjani yang ditetapkan sebagai Geopark Dunia.

Terus Senggigi mau dikemanakan? Bagaimana juga upaya pihak terkait, khususnya Pemkab Lombok Barat melalui Dinas Pariwisatanya menyikapi ini semua? Upaya apa saja yang coba dilakukan?

Yuukks simak dan ramaikan. Selain podcast yg disiarkan secara live bersama Kepala Dinas Pariwisata Lobar, juga ada pementasan menarik dari komunitas muda desa Sesela yang akan menampilkan musik tradisi kontemporer. Syruuppuutt2…

Podcast #2 NEWSCOFFEE
Tema : SENGGIGI MAU DIBAWA KEMANA?
Nara Sumber : Syaiful Ahkam, S, Fil, M.Hum (Kadis Pariwisata Lombok Barat)
Waktu : Sabtu/Malming 3 Oktober 2020. Pukul 19.30-Selesai
Tempat : Newscoffee, Jl. Energi No. 109 Kr Panas Ampenan-Mataram

You may also like

Leave a Comment